Selamat Datang di Blog Ayo Belajar Bersama 4845 Lampung............................................................Blog ini digunakan sebagai contoh untuk pembelajaran Infomatika Peserta Didik di SMP Kartika II-2 Bandar Lampung
Tampilkan postingan dengan label IKM. Tampilkan semua postingan

Pembelajaran Deep Learning yang Kontekstual: Mindful, Meaningful, dan Joyful

0 Post a Comment

Dalam dunia pendidikan modern, pembelajaran deep learning menjadi salah satu pendekatan yang banyak diperkenalkan sebagai alternatif untuk mengembangkan pemahaman siswa secara mendalam dan bermakna. Berbeda dengan pembelajaran tradisional yang lebih berfokus pada penguasaan materi secara superficial, deep learning menekankan pada pengembangan pemahaman yang lebih luas, kritis, dan aplikatif terhadap topik yang dipelajari. Konsep ini bukan hanya berkaitan dengan mengingat informasi, melainkan dengan menghubungkan dan mengaplikasikan pengetahuan dalam konteks yang lebih kompleks dan relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran Deep Learning kini menjadi konsep penting dalam dunia pendidikan, menghadirkan pendekatan yang menekankan pada pemahaman mendalam dan relevansi konteks. Melalui deep learning, siswa tidak hanya menghafal fakta atau menguasai teknik tertentu, tetapi juga memahami makna dan relevansi dari apa yang mereka pelajari dalam kehidupan nyata. Dengan integrasi mindful, meaningful, dan joyful learning, proses pendidikan menjadi lebih kaya, memperhatikan keterlibatan emosi, relevansi, dan kebahagiaan siswa dalam belajar.

Dalam catatan ini, kita akan membahas secara singkat tentang bagaimana pembelajaran deep learning yang kontekstual dan mindful, meaningful, serta joyful dapat diterapkan. Pembahasan ini dilengkapi dengan contoh penerapan dalam situasi pembelajaran yang nyata, yang bertujuan memberikan gambaran menyeluruh tentang betapa pentingnya pendekatan ini bagi perkembangan karakter, pemahaman konsep, dan keterampilan siswa di masa mendatang.

  • Kontekstualisasi dalam Deep Learning

Kontekstualisasi dalam pembelajaran deep learning berarti mengaitkan konsep atau topik dengan pengalaman nyata atau konteks kehidupan siswa. Tujuan utama dari kontekstualisasi adalah membuat siswa memahami bagaimana pelajaran mereka dapat diaplikasikan di luar kelas. Dengan cara ini, siswa mampu memahami relevansi dan penerapan dari konsep yang mereka pelajari.

Sebagai contoh, dalam pelajaran biologi tentang ekosistem, guru dapat membawa siswa ke lingkungan sekitar untuk mengamati ekosistem lokal. Melalui observasi langsung, siswa dapat melihat bagaimana organisme berinteraksi, memahami rantai makanan, serta dampak manusia terhadap ekosistem tersebut. Pengalaman ini akan membuat pelajaran lebih bermakna karena siswa dapat menghubungkannya dengan kondisi nyata. Pendekatan ini menumbuhkan pemahaman yang lebih mendalam karena siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga melihat penerapannya langsung dalam lingkungan.

Di samping itu, kontekstualisasi membantu siswa memahami relevansi budaya dan sosial dalam materi yang mereka pelajari. Misalnya, dalam pelajaran sejarah, siswa bisa diajak untuk menggali sejarah lokal atau keluarga mereka. Proses ini tidak hanya membuat siswa lebih dekat dengan pelajaran, tetapi juga meningkatkan minat mereka dalam memahami asal-usul dan identitas sosial-budaya mereka sendiri.

  • Pembelajaran Mindful dalam Deep Learning

Mindful learning adalah proses pembelajaran di mana siswa belajar dengan kesadaran penuh, fokus, dan terlibat secara aktif dalam apa yang sedang mereka pelajari. Mindfulness dalam pendidikan bukan hanya tentang meditasi, tetapi juga tentang menciptakan kondisi di mana siswa merasa nyaman, fokus, dan dapat mengamati serta memahami materi secara lebih dalam tanpa gangguan.

Salah satu contoh penerapan mindful learning dalam deep learning adalah melalui pendekatan Project-Based Learning (PBL). PBL mendorong siswa untuk fokus pada satu proyek besar yang membutuhkan konsentrasi dan pemahaman mendalam. Misalnya, dalam pelajaran ilmu sosial tentang perubahan iklim, guru dapat meminta siswa untuk membuat proyek penelitian terkait dampak perubahan iklim di daerah mereka. Dengan berkonsentrasi pada satu proyek besar, siswa belajar untuk memproses informasi dengan cermat, memperhatikan detail, dan melibatkan diri mereka secara penuh.

Pendekatan mindful juga membantu siswa untuk lebih sadar akan proses belajar mereka. Misalnya, guru dapat mengajarkan teknik mindfulness seperti pernapasan dalam atau refleksi pribadi sebelum atau sesudah belajar untuk membantu siswa mengelola emosi dan stres. Teknik ini membantu siswa untuk tetap fokus, rileks, dan mampu menyerap materi dengan lebih baik, sehingga mereka dapat memahami materi secara mendalam.

  • Pembelajaran Meaningful dalam Deep Learning

Pembelajaran meaningful adalah proses pembelajaran di mana siswa merasa bahwa apa yang mereka pelajari memiliki makna dan relevansi dalam kehidupan mereka. Pembelajaran meaningful sangat penting dalam deep learning karena memungkinkan siswa untuk merasa bahwa ilmu yang mereka peroleh bukan hanya sekadar angka atau fakta di atas kertas, tetapi sesuatu yang berharga dan relevan.

Sebagai contoh, dalam pelajaran matematika, alih-alih hanya mengajarkan rumus, guru dapat mengaitkan konsep matematika dengan aktivitas kehidupan sehari-hari seperti mengelola anggaran atau menghitung bunga tabungan. Dengan memberikan contoh nyata, siswa lebih mudah memahami aplikasi praktis dari materi yang mereka pelajari. Selain itu, pendekatan meaningful ini membantu siswa untuk melihat bahwa keterampilan yang mereka pelajari memiliki kegunaan nyata di kehidupan mereka, baik sekarang maupun di masa depan.

Dalam pelajaran bahasa Indonesia, guru dapat mengajak siswa untuk menulis cerita atau artikel tentang topik yang mereka minati, seperti cerita tentang lingkungan atau peristiwa lokal. Melalui tugas seperti ini, siswa akan merasa bahwa keterampilan menulis dan bahasa yang mereka pelajari memiliki makna yang lebih dalam karena bisa disesuaikan dengan minat dan pengalaman mereka.

  • Pembelajaran Joyful dalam Deep Learning

Joyful learning atau pembelajaran yang menyenangkan merupakan elemen penting dalam menciptakan pengalaman belajar yang positif. Ketika siswa merasa bahagia dan tertarik selama proses belajar, mereka lebih mudah untuk menyerap informasi dan mempertahankan apa yang telah mereka pelajari. Pembelajaran joyful tidak hanya tentang bermain atau beraktivitas tanpa beban, tetapi menciptakan pengalaman belajar yang interaktif, menantang, dan penuh rasa ingin tahu.

Contoh pembelajaran joyful bisa dilihat dalam penggunaan gamifikasi. Guru dapat mengubah proses pembelajaran menjadi permainan dengan memberikan poin, tantangan, atau penghargaan untuk setiap pencapaian siswa. Misalnya, dalam pelajaran geografi, siswa dapat diajak bermain permainan kuis berbasis tim di mana mereka harus menjawab pertanyaan seputar negara, iklim, atau benua. Kegiatan ini bukan hanya membuat suasana kelas lebih menyenangkan, tetapi juga mendorong siswa untuk berkolaborasi dan memotivasi mereka untuk lebih bersemangat dalam belajar.

Selain itu, joyful learning juga bisa diterapkan melalui kegiatan seni. Dalam pelajaran sains, siswa dapat diajak untuk membuat model atau ilustrasi visual dari konsep yang dipelajari, seperti sistem tata surya atau siklus air. Melalui aktivitas ini, siswa bisa mengekspresikan kreativitas mereka sambil memahami konsep ilmiah dengan cara yang lebih menarik dan menyenangkan.

  • Penerapan Kontekstualisasi, Mindful, Meaningful, dan Joyful Learning dalam Satu Kegiatan Terpadu

Salah satu contoh kegiatan yang dapat mengintegrasikan kontekstualisasi, mindful, meaningful, dan joyful learning adalah melalui program “Belajar di Luar Kelas.” Program ini memungkinkan siswa untuk belajar secara langsung di lapangan, seperti mengunjungi museum, pusat konservasi alam, atau tempat bersejarah.

Misalnya, dalam program kunjungan ke hutan mangrove, siswa belajar tentang ekosistem hutan mangrove, pentingnya menjaga kelestarian alam, dan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Kegiatan ini melibatkan kontekstualisasi, karena siswa belajar di lokasi yang nyata dan dapat melihat langsung apa yang mereka pelajari. Proses ini juga mindful karena siswa harus fokus dan mengamati lingkungan sekitar dengan seksama.

Selain itu, pengalaman ini meaningful karena siswa memahami bahwa hutan mangrove bukan hanya konsep abstrak dalam buku, tetapi ekosistem yang penting bagi kehidupan. Joyful learning tercipta melalui kegiatan interaktif seperti menjelajahi hutan, berdiskusi dengan pemandu lokal, dan berinteraksi langsung dengan alam.

Pembelajaran deep learning yang mengintegrasikan kontekstualisasi, mindful, meaningful, dan joyful learning memberikan pendekatan yang menyeluruh dalam mendidik siswa. Dengan kontekstualisasi, siswa memahami relevansi materi dalam kehidupan nyata. Melalui mindful learning, mereka belajar dengan fokus dan penuh kesadaran. Pendekatan meaningful learning membantu siswa menemukan makna dari apa yang mereka pelajari, sementara joyful learning menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan penuh antusiasme.

Pendekatan pembelajaran ini tidak hanya membekali siswa dengan pengetahuan akademik, tetapi juga mengembangkan karakter dan keterampilan hidup yang akan sangat berharga bagi mereka di masa depan. Pembelajaran deep learning yang kontekstual, mindful, meaningful, dan joyful mendorong siswa untuk menjadi pembelajar yang berpengetahuan, bermakna, penuh rasa ingin tahu, dan bahagia dalam belajar.

Contoh :
SD https://guru.kemdikbud.go.id/bukti-karya/pdf/892514?source=BK_EXPLORATION_PAGE
SMP https://guru.kemdikbud.go.id/bukti-karya/pdf/892795?source=BK_EXPLORATION_PAGE


Read More »

Arti Kurikulum Deep Learning dalam Pembelajaran

0 Post a Comment




 "Deep learning itu bukan kurikulum. Deep learning itu pendekatan belajar. Termasuk full-full juga bukan kurikulum," ujarnya.


Arti Kurikulum Deep Learning dalam Pembelajaran


Apa itu metode belajar Deep Learning yang diwacanakan menjadi pengganti Kurikulum Merdeka?

Laman AWS menjabarkan, deep learning adalah metode yang diadaptasi dalam kecerdasan buatan (AI). Metode mengajarkan komputer untuk memproses data dengan cara seperti cara otak manusia bekerja.

Model deep learning dapat mengenali pola kompleks dalam gambar, teks, suara, dan data lain untuk menghasilkan wawasan dan prediksi yang akurat.

Dengan menggunakan metode deep learning, maka kecerdasan buatan (AI) secara otomatis bisa melaksanakan berbagai hal yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia, seperti mendeskripsikan citra atau menyalin file suara ke dalam teks.

Sebagaimaan dirujuk laman Binusdeep learning sendiri merupakan percabangan bidang machine learning yang menggunakan saraf tiruan atau disebut dengan artificial neural networks. Hal ini memiliki beberapa layers dalam memproses atau mempelajari suatu data.

Metode memungkinkan suatu komputer belajar secara otomatis melalui pengalaman yang diberikan agar sistem dapat mengidentifikasi pola kompleks dalam data.

Bila diaplikasikan dalam metode pembelajaran, maka arti deep learning adalah sebuah kurikulum yang menggabungkan tiga elemen utama, yaitu Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyfull Learning.

Masing-masing elemen dirancang untuk menciptakan suasana belajar yang tidak hanya mengedepankan pengetahuan, tetapi juga pengalaman bermakna bagi para peserta didik.

Contoh Kurikulum Deep Learning dan Penerapannya

Secara umum, metode deep learning banyak diterapkan di beberapa sektor. Di antaranya seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan beberapa bidang lain.

Contoh penerapan deep learning pada sektor kesehatan adalah penggunaan sejumlah alat medis. Semisal CT scan, MRI, atau alat medis lain.

Dengan menggunakan metode deep learning, alat-alat kesehatan bisa memperoleh gambar-gambar yang dibutuhkan dalam diagnosa kesehatan. Setelah mencermati berbagai gambar tersebut, para tenaga kesehatan lalu mendeteksi penyakit pada organ dalam, seperti kanker, lesi, retinopati diabetik, dan lain lain.

Dalam bidang ekonomi, metode deep learning diterapkan di berbagai perusahaan untuk menganalisis data yang kompleks dan membantu perusahaan mengambil keputusan. Contohnya perilaku pelanggan, menganalisa permintaan pelanggan, dan lain lain.

Jika diaplikasikan dalam kurikulum pembelajaran, maka contoh Kurikulum Deep Learning dapat dipantau sesuai penggabungan tiga elemen yang mencakup Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyfull Learning.

Pada elemen Mindful Learning, para guru akan memperhatikan keunikan para siswa, termasuk potensi dan kebutuhan masing-masing yang berbeda.

Misalnya ketika masuk dalam materi tentang panas. Maka para siswa nantinya diajak untuk bereksperimen, baik di laboratorium dengan melihat bagaimana panas atau kalor terbentuk dan fungsi panas dalam kehidupan sehari-hari.

Kemudian elemen Meaningful Learning. Para siswa diajak memahami alasan di balik setiap materi pelajaran yang dipelajari dan pentingnya pelajaran itu bagi kehidupan di dunia nyata kelak.

Terakhir adalah elemen Joyfull Learning. Metode ini menjadi pendekatan pembelajaran yang tidak sekadar mengedepankan hal-hal yang menyenangkan dalam pembelajaran. Namun juga mengutamakan pemikiran yang mendalam dari para siswa terhadap setiap materi pembelajaran yang diajarkan.

Perbedaan Deep Learning dan Machine Learning

Sebagai percabangan bidang machine learning, apa saja perbedaan antara deep learning dan machine learning dalam ilmu pelatihan program atau sistem komputer?

Machine learning pertama kali dikenalkan Arthur Samuel pada tahun 1959. Cabang ilmu komputer ini secara khusus mempelajari bagaimana sebuah mesin mampu menyelesaikan masalah tanpa harus diprogram secara eksplisit.

Kemampuan machine learning berbeda dengan deep learning. Dengan deep learning, komputer memiliki kemampuan mempelajari sesuatu dan menyelesaikan tugas secara lebih dinamis.

Berikut ini adalah beberapa perbedaan machine learning dan deep learning:

Algoritma

Machine learning menggunakan algoritma untuk mengurai data, mempelajari data, dan membuat keputusan berdasarkan data yang telah dipelajari.

Sementara itu, deep learning menggunakan susunan algoritma yang berlapis-lapis untuk menciptakan “jaringan nalar buatan”. Hal ini membuat deep learning memiliki kemampuan mempelajari data dan membuat keputusan sendiri.

Data

Machine learning hanya mampu menganalisis data yang terstruktur. Namun, algoritma pada machine learning bisa menganalisis data dalam jumlah kecil.

Deep learning mampu menganalisis data yang tidak terstruktur seperti gambar, video, maupun audio.

Algoritma deep learning tidak memiliki kemampuan secara maksimal mengolah data dalam jumlah kecil. Hal ini terjadi karena algoritma deep learning sengaja dirancang untuk mengolah data dalam jumlah banyak.

Attribute Engineering (Rekayasa Fitur)

Machine learning membutuhkan rekayasa fitur. Di lain sisi, deep learning sama sekali tidak membutuh rekayasa fitur. Dengan kata lain, beberapa fitur kemungkinan bisa saling berkaitan saat proses analisis pada program machine learning.

Attribute engineering (rekayasa fitur) sendiri mengacu pada proses pemilihan dan transformasi variabel menggunakan machine learning atau deep learning saat menciptakan model analisis prediktif.

Hardware (Perangkat Keras)

Butuh perangkat keras kelas atas untuk menjalankan program pembelajaran deep learning. Selain itu, mesin yang digunakan juga harus memiliki kemampuan mumpuni untuk mengolah data dalam jumlah besar. .

Sementara itu, program pembelajaran machine learning cukup membutuhkan mesin kelas menengah atau bahkan kelas bawah untuk mengolah data secara optimal.

Penerapan

Penerapan model machine learning adalah sistem rekomendasi pada e-commerce. Algoritma machine learning akan menganalisis data produk yang sebelumnya dicari untuk memberi rekomendasi serupa.

Contoh lain penerapan machine learning adalah asisten virtual seperti Google Assistant, Alexa, Cortana, dan Siri.

Sementara penerapan deep learning bisa ditemukan pada fitur face unlock di smartphone. Fitur ini berfungsi membuka kunci pada HP dengan mendeteksi wajah pengguna.

Contoh :

SD https://guru.kemdikbud.go.id/bukti-karya/pdf/892514?source=BK_EXPLORATION_PAGE
SMP https://guru.kemdikbud.go.id/bukti-karya/pdf/892795?source=BK_EXPLORATION_PAGE


Read More »

IN HOUSE TRAINING (IHT) “IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA” SMP Kartika II-2 Bandar Lampung

0 Post a Comment

Read More »

STRUKTUR KURIKULUM MERDEKA

0 Post a Comment



Struktur Kurikulum pada PAUD

Struktur Kurikulum pada PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA), terdiri atas:

  1. Kegiatan Pembelajaran Intrakurikuler
  2. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Kegiatan pembelajaran intrakurikuler dirancang agar anak dapat mencapai kemampuan yang tertuang di dalam Capaian Pembelajaran. Capaian Pembelajaran PAUD terdiri atas satu fase yang disebut fase fondasi,

Projek penguatan profil pelajar Pancasila di PAUD dilakukan dengan konteks tradisi Lokal, hari besar nasional, atau internasional dan dilaksanakan sebanyak 1 (satu) sampai dengan 2 (dua) projek dengan tema berbeda di PAUD dalam satu tahun ajaran.

Alokasi waktu di PAUD usia 3 (tiga) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun paling sedikit 360(tiga ratus enam puluh) ment perminggu. Alokasi waktu pembelajaran di PAUD usia 4(empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun paling secikit 900 (sembilan ratus) menit perminggu. Tidak ada batasan alokasi waktu untuk projek peng uatan profil pelajar Pancasila.

Satuan pendidikan diharapkan dapat mengatur alokasi waktu yang dapat mengakomodasi ercapainya Capaian Pembelajaran dan pelaksanaan projek penguatan profil pelajar pancasila.

 

Struktur Kurikulum pada Pendidikan Dasar dan Menengah

Struktur Kurikulum pada Pendidikan Dasar dan Menengah dibagi menjadi 2 (dua) kegiatan Utama, yaitu:

  1. pembelajaran intrakurikuler; dan
  2. projek penguatan profil pelajar Pancasila.

SD/Mi sederajat

SDIMUbentuk Lain yang sederajat dapat mengorganisasikan muatan pembelajaran menggunakan pendekatan mata pelajaran atau tematik. Capaian pembelajaran untuk jenjang SD/Mi/bentuk lain yang sederajat dibagi menjadi 3 (tiga) fase: Fase A untuk kelas I dan kelas II, Fase B untuk kelas Ill dan kelas IV, dan Fase C untuk kelas V dan kelas VI

SMP/MTs sederajat

Capaian pembelajaran untuk jenjang SMP/MTs/bentuk Lain yang sederajat terdiri atas 1 (satu) fase yaitu Fase D untuk kelas VII kelas VII, dan kelas IX.

 

SMA/MA sederajat

Mata pelajaran yang tercantum pada struktur kurikulum kelas X berlaku wajib untuk semua siswa, sedangkan pemilihan mata pelajaran dilakukan pada kelas Xl dan XI.

Capaian pembelajaran untuk jenjang SMA/MA/bentuk lain yang sederajat terdiri atas 2 (dua) Fase: Fase E untuk kelas X dan Fase F untuk kelas XI dan kelas XI.

Kerangka-modul-ajar-kurikulum-merdeka

CAPAIAN PEMBELAJARAN KURIKULUM MERDEKA




Read More »

Kerangka Modul Ajar Kurikulum Merdeka

0 Post a Comment


Kerangka Modul Ajar (RPP)

Bapak/Ibu guru, apa perangkat ajar penting yang tidak boleh ketinggalan sebelum memulai kegiatan pembelajaran? Benar sekali, Modul Ajar! 

Dalam Kurikulum Merdeka, Modul Ajar memiliki peranan yang sangat penting karena perangkat ajar ini berperan sebagai petunjuk sekaligus pedoman guru untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. Maka dari itu, Bapak/Ibu guru harus dapat merancang dan mengembangkan Modul Ajar dengan baik. 

Bagi Bapak/Ibu guru yang masih bingung bagaimana cara merancang atau mengembangkan Modul Ajar, bahkan masih belum memahami sepenuhnya mengenai perangkat ajar ini tak perlu khawatir karena artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai Modul Ajar Kurikulum Merdeka. Mari simak ulasan berikut ini. 

Modul Ajar adalah salah satu jenis perangkat ajar dalam Kurikulum Merdeka yang dirancang secara lengkap dan sistematis sebagai panduan dan pedoman guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Perangkat ajar ini merupakan bentuk penerapan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) yang dikembangkan dari Capaian Pembelajaran (CP) dan dilengkapi dengan langkah-langkah pembelajaran, rencana asesmen, hingga sarana yang dibutuhkan agar dapat menjalani pembelajaran yang lebih terorganisir. 

Mengingat pentingnya peranan Modul Ajar ini, maka harus disusun secara lengkap dan sistematis. Lengkap artinya sebuah modul ajar harus memuat semua komponen yang telah ditentukan, sedangkan sistematis berarti modul ajar harus disusun secara urut mulai dari pembukaan, isi materi, dan penutup sehingga memudahkan siswa belajar sekaligus memudahkan guru dalam menyampaikan materi. 

Modul Ajar yang tidak lengkap dan tidak sistematis akan menyebabkan guru kesulitan dalam meningkatkan efektivitas mengajar. Dampak ini juga dapat diterima siswa karena materi yang disampaikan guru tidak sistematis sehingga siswa pun kebingungan dalam memahami materi. 

Selain itu, Modul Ajar juga disusun sesuai dengan fase atau tahap perkembangan siswa, mempertimbangkan apa yang akan dipelajari dengan tujuan pembelajaran, dan berbasis perkembangan jangka panjang. 

Komponen Modul Ajar

Pada saat menyusun Modul Ajar, guru harus memperhatikan komponen-komponen yang menjadi dasar dalam proses penyusunannya. Setiap komponen dalam Modul Ajar dibutuhkan untuk kelengkapan persiapan pembelajaran. 

Selain itu, dalam penyusunan komponen Modul Ajar ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan guru dan mata pelajaran. 

Secara umum, modul ajar terdiri dari komponen sebagai berikut :

Kerangka atau bisa juga disebut komponen modul ajar pada kurikulum merdeka terdiri dari 3 bagian utama.

Ketiga bagian tersebut ialah informasi umum, komponen inti, dan lampiran.

Nah dalam penyusunan modul ajar nantinya, kawan guru bebas mengisi komponen utama di atas dengan komponen-komponen turunan yang diperlukan.

Tapi secara umum, format kerangka modul ajar kurikulum merdeka sesuai contoh yang diberikan kementerian pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud), berisi poin-poin sebagi berikut:

Informasi Umum

Bagian ini berisi beberapa sub komponen sebagai berikut:

A. Identitas Modul

Berisi informasi awal tentang modul ajar yang dikembangkan. Umumnya, identitas modul ini memuat informasi tentang:

  • Nama penyusun, institusi, dan tahun disusunya modul ajar
  • Jenjang sekolah (SD/SMP/SMA)
  • Kelas
  • Alokasi waktu (mengikuti alokasi waktu sesuai jam pelajaran yang berlaku di sekolah masing-masing)

B. Kompetensi Awal

Kompetensi awal adalah ukuran seberapa dalam sebuah modul ajar dibuat oleh penyusun.

Di bagian ini juga dijabarkan pengetahuan dan atau keterampilan apa saja yang diperlukan siswa sebelum mempelajari topik tertentu.

C. Profil Pelajar Pancasila

Profil pelajar pancasila atau PPP dapat tercermin dalam konten dan atau metode pembelajaran.

PPP ini adalah tujuan akhir dari kegiatan pembelajaran yang berkaitan erat dengan pembentukan karakter peserta didik.

Nah dalam penyusunan modul ajar, kawan guru tidak perlu memasukkan semua profil pelajar pancasila.

Kawan guru bisa memilih beberapa profil sesuai dengan kegiatan pembelajaran yang termuat di dalam modul ajar.

Adapun enam dimensi profil pelajar pancasila akan saling berkaitan dan terintegrasi dalam seluruh mata pelajaran melalui:

  • Materi/isi pelajaran,
  • Pedagogi, dan atau
  • Kegiatan projek atau
  • Asesmen

Perlu diketahui bahwa setiap modul ajar memuat satu atau beberapa unsur dimensi profil pelajar pancasila yang telah ditetapkan.

D. Sarana dan Prasarana

Berisi penjabaran tentang fasilitas dan bahan yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan pembelajaran.

Sarana merujuk pada alat dan bahan yang digunakan, sementara prasarana di dalamnya termasuk materi dan sumber bahan ajar lain yang relevan.

Ketersediaan materi disarankan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik baik dengan keterbatasan atau kelebihan.

Teknologi, termasuk sarana dan prasarana yang penting untuk diperhatikan, dan juga dimanfaatkan agar pembelajaran lebih dalam dan bermakna.

E. Target Peserta Didik

Berisi rincian dari karakter peserta didik yang menjadi target, yaitu:

  • Peserta didik reguler/tipikal: umum, tidak ada kesulitan dalam mencerna dan memahami materi ajar.
  • Peserta didik dengan kesulitan belajar: memiliki gaya belajar yang terbatas hanya satu gaya misalnya dengan audio. Memiliki kesulitan dengan bahasa dan pemahaman materi ajar, kurang percaya diri, kesulitan berkonsentrasi jangka panjang, dsb.
  • Peserta didik dengan pencapaian tinggi: mencerna dan memahami dengan cepat, mampu mencapai keterampilan berfikir aras tinggi (HOTS), dan memiliki keterampilan memimpin.

F. Model Pembelajaran

Model pembelajaran dapat berupa model pembelajaran tatap muka, pembelajaran jarak jauh dalam jaringan (PJJ Daring), pembelajaran jarak jauh luar jaringan (PJJ Luring), dan blended learning.

Model pembelajaran ini nantinya akan memberikan gambaran sistematis tentang pelaksanaan pembelajaran.

Komponen Inti

Bagian komponen inti berisi sub komponen sebagai berikut:

A. Tujuan Pembelajaran

Berbagai bentuk tujuan pembelajaran: pengetahuan tentang fakta dan informasi, dan juga prosedural, pemahaman konseptual, pemikiran dan penalaran keterampilan, dan kolaboratif dan strategi komunikasi.

Yang perlu diperhatikan adalah tujuan pembelajaran harus mencerminkan hal-hal penting dari pembelajaran.

Dan, tujuan pembelajaran juga harus bisa diuji dengan berbagai bentuk asesmen sebagai bentuk dari unjuk pemahaman.

Tujuan pembelajaran menentukan kegiatan belajar, sumber daya, kesesuaian dengan beragam karakter siswa, dan metode asesmen.

B. Pemahaman Bermakna

Merupakan informasi perihal manfaat yang nantinya akan didapatkan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran.

Selanjutnya, manfaat tersebut nantinya bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut contoh kalimat pemahaman bermakna:

  • Manusia berorganisasi untuk memecahkan masalah dan mencapai suatu tujuan.
  • Makhluk hidup beradaptasi dengan perubahan habitat.

C. Pertanyaan Pemantik

Kawan guru membuat pertanyaan pemantik untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan merangsang kemampuan berfikir peserta didik.

Dengan pertanyaan pemantik ini, siswa akan dipandu untuk memperolah pemahaman bermakna sesuai tujuan pembelajaran.

Berikut contoh pertanyaan pemantik pada pembelajaran menulis cerpen:

  • Apa yang membuat sebuah cerpen menarik untuk dibaca?
  • Jika kamu diminta untuk membuat akhir cerita yang berbeda, apa yang akan kamu usulkan?

D. Kegiatan Pembelajaran

Urutan kegiatan pembelajaran inti dalam bentuk langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang dituangkan secara konkret,

disertakan opsi/pembelajaran alternatif dan langkah untuk menyesuaikan dengan kebutuhan belajar siswa.

Langkah kegiatan pembelajaran ditulis secara berurutan sesuai dengan durasi waktu yang direncanakan,

meliputi tiga tahap, yakni pendahuluan, inti, dan penutup berbasis metode pembelajaran aktif.

E. Asesmen

Tujuan adanya asesmen adalah untuk mengukur capaian pembelajaran di akhir kegiatan.

Kriteria pencapaian harus ditentukan dengan jelas sesuai tujuan pembelajaran yang ditetapkan.

Ada 3 jenis asesmen yang biasa dipakai yaitu:

  • Asesmen sebelum pembelajaran (diagnostik)
  • Asesmen selama proses pembelajaran (formatif)
  • Asesmen pada akhir proses pembelajaran (sumatif)

Sedangkan bentuk asesmen yang bisa kawan guru lakukan yaitu:

  • Sikap (profil pelajar pancasila) dapat berupa: observasi, penilaian diri, penilaian teman sebaya, anekdotal
  • Performa (presentasi, drama, pameran hasil karya, jurnal, dsb.)
  • Tertulis (tes objektif: essay, pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah)

D. Pengayaan dan Remedial

Pengayaan merupakan kegiatan pembelajaran yang diberikan kepada siswa dengan capaian tinggi agar dapat mengembangkan potensi mereka secara optimal.

Sedangkan remedial, merupakan kegiatan pembelajaran yang diberikan kepada siswa yang membutuhkan bimbingan lebih lanjut,

agar lebih memahami materi atau pembelajaran mengulang.

Saat kawan guru merancang kegiatan pengayaan, kawan guru perlu memperhatikan mengenai diferensiasi contohnya lembar belajar/kegiatan yang berbeda dengan kelas.

Struktur-kurikulum-merdeka

Lampiran

Komponen lampiran pada modul atau rpp merdeka belajar biasanya terdiri dari sub komponen sebagai berikut:

A. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

LKPD ini diberikan kepada peserta didik dan dapat diperbanyak sesuai kebutuhan.

Selain untuk siswa reguler, lembar kerja siswa juga diberikan kepada peserta didik non reguler.

B. Bahan Bacaan Guru dan Peserta Didik

Bahan bacaan digunakan sebagai pemantik sebelum dimulainya kegiatan pembelajaran.

Tujuannya untuk memperdalam materi pada saat atau akhir kegiatan pembelajaran.

C. Glosarium

Glosarium merupakan kumpulan istilah-istilah dalam suatu bidang secara alfabetikal yang dilengkapi dengan definisi dan artinya.

Glosarium diperlukan untuk kata atau istilah yang memerlukan penjelasan lebih mendalam.

D. Daftar Pustaka

Daftar pustaka adalah sumber-sumber referensi yang digunakan dalam pengembangan modul ajar.

Referensi yang dimaksud adalah semua sumber belajar (buku siswa, buku referensi, majalah, koran, situs internet, lingkungan sekitar, narasumber, dsb.)

Penutup

Demikian artikel tentang kerangka modul ajar kurikulum merdeka yang sering juga disebut kurikulum prototype tahun 2022.

Semoga dengan memahami artikel ini, kawan guru bisa dengan mudah membuat modul ajar sendiri untuk dipakai dalam proses belajar mengajar. Terima kasih.

Kurikulum merdeka dapat dilihat disini


Read More »

CAPAIAN PEMBELAJARAN PADA PENDIDIKAN PAUD, SD, SMP dan SMA

0 Post a Comment
YO BELAJAR





Read More »

Keputusan Kepala BSKAP tentang Satuan Pendidikan Pelaksana Implementasi Kurikulum Merdeka Melalui Jalur Mandiri pada Tahun Ajaran 2022/2023 Tahap I

0 Post a Comment


Dalam rangka melaksanakan ketentuan dalam Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 56/M/2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran, perlu penetapan satuan pendidikan pelaksana implementasi Kurikulum Merdeka melalui jalur mandiri.

Implementasi Kurikulum Merdeka melalui jalur mandiri pada tahun ajaran 2022/2023 dimulai dari usia 5 (lima) sampai dengan 6 (enam) tahun pada pendidikan anak usia dini, serta peserta didik kelas I, kelas IV, kelas VII, dan kelas X pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Baca Juga : 
Keputusan Kepala BSKAP Tahap II

Satuan pendidikan pelaksana implementasi Kurikulum Merdeka melalui jalur mandiri tahun ajaran 2022/2023 terdiri dari 3 (tiga) kategori pelaksanaan implementasi:

  1. mandiri belajar
  2. mandiri berubah, atau
  3. mandiri berbagi

Satuan Pendidikan dapat melakukan perubahan pilihan kategori pelaksaaan implementasi Kurikulum Merdeka paling lambat tanggal 31 Mei 2022 melalui laman pendaftaran.

Bersama ini kami sampaikan Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tentang Satuan Pendidikan Pelaksana Implementasi Kurikulum Merdeka Melalui Jalur Mandiri pada Tahun Ajaran 2022/2023 Tahap I. Satuan Pendidikan yang ditetapkan dalam keputusan ini adalah satuan pendidikan yang telah mendaftar sebagai pelaksana Kurikulum Merdeka sampai dengan tanggal 27 April 2022 Pukul 11.36 WIB. Satuan Pendidikan yang mendaftar dari tanggal 27 April sampai dengan tanggal 30 April akan ditetapkan pada tahap II.

Unduh Surat Keputusan KLIK DISINI
Unduh Khusu Lampiran Khusu Wilayah Lampung KLIK DISINI

Unduh Lampiran Surat Keputusan Nasional KLIK DISINI

Sumber : Klik Disini





Read More »